Pedofilia – Sang Predator Anak

Pedofilia – Sang Predator Anak

Pedofilia berasal dari bahasa Yunani “Paidos” yang berarti anak. Ciri utama dari seseorang yang menderita kelainan pedofilia yang pada umumnya pria, adalah adanya dorongan seksual yang sangat kuat dan berulang serta adanya fantasi tentang akivitas seksual terhadap anak anak yang belum puber (biasanya usia 13 tahun atau bahkan lebih muda). Selain itu terkadang ada penganiayaan terhadap korban anak anak. Para ahli mendefinisikan seseorang  dapat didiagnosa  pedofilia apabila orang tersebut setidaknya berusia 16 tahun atau 5 tahun lebih tua dari anak anak yang mereka rasakan ketertarikan secara seksual. Korban anak anak ini meliputi anak laki maupun perempuan.

Beberapa kasus pedofilia terbatas pada melihat dan melucuti pakaian korban, tetapi banyak kasus lainnya terlibat dalam ekshibisionisme (memperlihatkan alat kelamin pada korban), mencium, sek oral, hubungan sek anal, dan pada korban anak perempuan terjadi pula hubungan sek vaginal.

Biasanya korban didekati dengan cara dibujuk dan diperdaya, akan diberitahu sesuatu yang menarik, diajak melakukan sesuatu yang akan disukai korban. Beberapa pria pelaku pedofilia membatasi aktivitas seksual mereka pada anak anak yang memiliki kedekatan keluarga,  sedangkan yang lain hanya menganiaya anak anak yang tidak memiliki hubungan keluarga.

Tidak semua penganiaya anak anak adalah penderita pedofilia. Definisi psikologi klinis dari pedofilia hanya ketertarikan secara seksual pada anak yang terjadi secara berulang dan terus menerus. Beberapa kasus pedofilia, sang pelaku melakukan perbuatan hanya pada saat tertentu atau apabila ada kesempatan saja.

Pelaku pedofilia jangan dibayangkan seseorang pria yang lusuh, kotor dan pengangguran yang berkeliaran disekitar sekolah. Pria dengan gangguan pedofilia tidak bisa dibedakan secara fisik dan sosial, mereka bisa jadi mempunyai posisi terhormat, menikah, bercerai, berkeluarga, mempunyai anak. Pelaku biasanya sudah berhubungan baik dengan korban, merupakan keluarga, teman, tetangga, penjaga sekolah bahkan guru sekolah. Kedekatan hubungan pelaku dengan korban ini yang bisa mempermudah pelaku membujuk dan memperdayai korban.

Penyebab gangguan pedofilia sangat kompleks dan variatif. Pada sejumlah kasus ciri pelaku cocok dengan streotip orang yang pendiam, bermasalah dengan hubungan sosial, penyediri yang merasa tertekan dalam berhubungan seksual  dengan orang dewasa sehingga berbelok arah dengan mendapatkan kepuasan seksual pada anak anak, yang pada umumnya tidak banyak menuntut dan penurut.  Pada kasus lain, pelaku pada masa kanak kanak pernah mempunyai pengalaman seksual dengan anak anak lain, sehingga pada masa dewasa ingin mengulang pengalaman masa lalu yang dirasakan menyenangkan.  Atau bisa jadi pelaku pada masa kanak kanak pernah teraniaya secara seksual oleh orang dewasa, pengalaman traumatis ini sangat membekas dan pada masa dewasa pelaku ingin membalikkan keadaan sebagai usaha untuk mendapatkan kembali perasaan berkuasa.

Karena sangat sulit membedakan pelaku pedofilia dengan orang normal, menjadi tanggung jawab kita untuk lebih waspada dalam menjaga anak anak kita. Meskipun pelaku pedofilia bisa orang dekat, tetangga, penjaga sekolah, bahkan guru sekolah, bukan berarti kita menjadi paranoid dengan menaruh curiga pada setiap orang dekat.     Kedekatan dan komunikasi orang tua terhadap anak sangat diperlukan, sehingga orang tua bisa memberikan pengertian dan memonitor perilaku anak anak. Beri pengetahuan dalam bahasa anak anak tentang seksualitas, tentang pentingnya menjaga alat vital sebagai area pribadi dengan tidak boleh memperlihatkan didepan sembarang orang kecuali orang tua atau  tenaga medis dengan didampingi orang tua, tidak boleh melihat alat vital orang lain dan keberanian menolak jika ada orang dewasa yang memperlihatkan alat vital.

Pelaku pedofilia yang telah melakukan penganiayaan seksual terhadap korban anak anak adalah perbuatan melawan hukum dan sepantasnya diberikan hukuman yang setimpal. Akan tetapi seharusnya dibarengi juga dengan terapi psikologi yang bisa mengatasi gangguan seksual menyimpang tersebut, sehingga kelak apabila hukuman fisik telah selesai, pelaku bisa terbebas dari dorongan seksual terhadap anak anak. Hukuman penjara mungkin bisa memberikan efek jera, akan tetapi apabila dorongan bawah sadar sangat kuat ada kemungkinan pelaku akan mengulangi perbuatan pedofilia.

Seseorang dengan kecenderungan pedofilia yang masih bisa mengendalikan diri dan sadar adanya dorongan seksual terhadap anak kecil, yang mungkin pernah mengalami kekerasan seksual pada masa kanak kanak. Tentunya harus segera berusaha mencari pengobatan yang tepat.

Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Penyimpangan Seksual Masokisme dan Sadisme

mengobati trauma